Analisa Forex Mingguan 19-23 Juni 2017

Laporan ekonomi Amerika yang tertekan seperti Pembangunan perumahan A.S dan sentiment konsumen yang lemah dan mendukung pelambatan laju kenaikan suku bunga dari Federal Reserve telah membebani dolar karena turun ke posisi terendah terhadap mata uang lainnya. Namun, Dolar AS naik ke level tertinggi lebih dari dua minggu pada hari Kamis lalu setelah The Fed menaikkan suku bunga dan mempertahankan rencana untuk melanjutkan kenaikan suku bunga lain pada akhir tahun. Bank sentral juga memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana rencana tersebut untuk mengurangi neraca $ 4.5 triliun yang besar.

Meskipun ada kecenderungan untuk naikkan suku bunga, pelaku pasar tetap ragu mengenai kemampuan The Fed untuk menaikkan suku bunga sebanyak yang diinginkannya sebelum akhir tahun ini karena data ekonomi A.S. yang mengecewakan.

Di Jepang, setelah Bank of Japan mempertahankan suku bunga tidak berubah dan mengisyaratkan bahwa kebijakan moneter ultra-longgar dapat tetap dipertahankan untuk sementara waktu. Hal ini membuat Yen melemah terhadap Dolar AS menuju level 111.65 hingga level 112.05. Pelemahan Yen terhadap Dolar AS ini selain karena kebijakan moneter Jepang yang tetap dipertahankan, juga dikarenakan masih kuatnya pengaruh kenaikan suku bunga Amerika minggu lalu. Jika telah mencapai level 111.65-112.05, maka USDJPY diprediksi akan kembali melemah menuju level 110.60 kembali.

Sementara itu, pound Inggris terhadap dolar masih mencoba untuk naik, didukung oleh ekspektasi bahwa Bank of England dapat mengubah pendiriannya pada suku bunga rendah dalam waktu dekat, setelah semakin banyak anggotanya memilih untuk melakukan kenaikan suku bunga pada hari Kamis. Dari 8 anggotanya, 3 anggota setuju untuk naikkan suku bunga. Sebelumnya hanya 1 orang yang setuju untuk naikkan suku bunga. Diprediksi jika menembus level 1.2810 maka GBPUSD diprediksi dapat terus naik ke level 1.2900. Namun, jika tidak dapat menembus level 1.2810, ada kemungkinan GBPUSD kembali melemah karena pasar masih ragu akan situasi politik di Inggris pasca Pemilu yang membuat posisi Theressa May tidak cukup kuat dalam menentukan kebijakan karena lemahnya dukungan dari parlemen hasil Pemilu.

Di kawasan Ekonomi Eropa, Dana Moneter Internasional dan 19 menteri keuangan zona euro mendukung pembayaran hutang Yunani sebesar € 8,5 miliar ke Yunani untuk mendapatkan default pada bulan Juli dan mencegah krisis utang terjadi. Setelah sempat menguat ke level 1.1295 pada minggu lalu, nampaknya minggu ini EURUSD diprediksi akan melemah menuju level 1.1106. Jika level 1.1100 tidak dapat ditembus, maka EURUSD diprediksi akan kembali naik menuju level 1.1200 hingga level 1.1280.
Di Eropa, pelaku pasar masih menantikan dimulainya negosiasi Brexit antara Inggris dan Uni Eropa. Menteri Brexit Inggris David Davis dan juru runding utama Uni Eropa Michel Barnier akan memulai negosiasi mengenai kepergian Inggris dari Uni Eropa di Brussels di awal minggu ini.

Di Australia, Gubernur Reserve Bank of Australia Philip Lowe akan berpartisipasi dalam diskusi panel di Crawford Australian Leadership Forum, di Canberra. Pasar menantikan juga hasil pertemuan penentu kebijakan moneter Australia. AUDUSD diprediksi masih terkonsolidasi antara level 0.7550-0.7680.

Anda ingin belajar forex trading bersama analis Forex Simpro? Hubungi kami untuk mendapatkan informasi training forex, training forex online (webinar), layanan autochartist, strategi trading forex untuk mulai trading hari ini !

Dapatkan free signal trading forex, trading gold, trading index dan trading oil dari Forex Simpro. Buka akun forex sekarang dan coba signal forex kami gratis selama 7 hari.

Informasi : Laura
Phone / WhatsApp :
0813.8333.1613